Entri Populer

Sabtu, 05 Maret 2011

EKSPOR IMPOR JAHE

Pengertian pertanian dalam arti yang sempit, mungkin hanya diartikan proses budidaya tanaman untuk pangan saja, namun dengan perkembangan pengetahuan, pertanian telah diartikan dalam bidang yang lebih luas lagi, seperti tercakup dalam rangkaian usaha agribisnis, mulai dari pembibitan, pembudidayaan, pemanenan, pengadaan sarana produksi pertanian (pupuk, insektisida, oil) serta pengelolaan dan pemasarannya.
Dalam sektor pemasaran, Indonesia terus melakukan ekspansi ekpor terhadap produk-produk baik dari sektor migas maupun nonmigas. Sektor nonmigas memberi sumbangan yang lebih besar bagi Indonesia dalam devisa,yaitu sebsar US$ 100 milyar (Badan Pusat Statistik,2008).

Perkembangan Ekspor Indonesia tahun 2007 - 2008

Dari sektor nonmigas, terdapat sektor pertanian yang memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan rakyat Indonesia. Dari sektor pertanian ini terdapat jenis tanaman dari subtanaman holtikultura, yaitu tanaman biofarmaka atau tanaman obat. Seiring dengan peningkatan permintaan dunia akan obat-obatan alami maka permintaan akan tanaman ini ikut meningkat. Dari ribuan jenis tanaman biofarmaka yang sangat dibutuhkan dunia, yang sudah dikembangkan Indonesia untuk komoditas andalan ekspor baru 13 jenis dengan jahe sebagai komoditas andalan yang ditandai dengan perluasan areal dan produksi paling besar diantara 12 jenis tanaman lainnya.

Jahe (Zingiber officinale Rosc.)Sumber : indobestseller.wordpress.com/200...gorokan/

Jahe (Zingiber officinale Rosc.) adalah tanaman yang sangat penting bagi masyarakat Indonesia dan dunia, karena kekhasannya yang tidak dapat digantikan dengan tanaman lain. Komoditasnya memiliki peluang strategis dalam menunjang pembangunan di subsektor perkebunan untuk kesehatan dan sebagai komoditi non-tradisional. Permintaan jahe dunia berfluktuasi dengan nilai impor tahun 2001 US$ 159.626.729 kemudian menjadi US$ 143.998.323 pada tahun 2002. Tahun berikutnya, nilai ini meningkat menjadi US$ 175.051.653 dan meningkat kembali pada tahun 2004 menjadi US$ 309.061.520. Tahun 2005, nilai impor jahe dunia sebesar US$ 314.061.520 kemudian menurun menjadi US$ 259.952.856 pada tahun 2006 dan menjadi US$ 289.056.258 pada tahun 2007.
Kurva fluktuasi nilai impor jahe dunia
Sumber :
UN Comtrade, 2009
Indonesia pernah menguasai pangsa pasar jahe dunia dengan nilai ekspor terbesar pada tahun 1990 sampai 1993 namun sejak tahun 1994 sampai tahun 2007 posisi ini digantikan Cina. Lima negara pengekspor jahe terbesar pada tahun 2007 adalah Cina dengan nilai ekspor US$ 153.298.869, Belanda US$ 16.178.743, Thailand dengan nilai ekspor sebesar US$ 14.890.545, India di urutan keempat dengan nilai US$ 8.951.147, dan Brazil sebesar US$ 6.436.831 sedangkan pada tahun 2009, Indonesia hanya menempati posisi ke-14 dengan nilai ekspor sebesar US$ 1.635.026. Atas dasar tersebut, Pemerintah melalui BPEN mengikutsertakan jahe dalam program pengembangan komoditas ekspor nonmigas. Dalam program pengembangan komoditas jahe tersebut,setidaknya ada tiga hal yang ingin dicapai, yaitu peningkatan produksi komoditas jahe sebagai sumber devisa, peningkatan pendapatan petani dan diversivikasi hasil jahe melalui berbagai industri pengolahan jahe.
Kondisi saat ini permintaan dunia akan obat-obatan alami yang meningkat maka permintaan akan tanaman jahe juga ikut meningkat. Dengan demikian, peluang pasar jahe juga semakin besar, sehingga untuk dapat menguasai dan memenuhi permintaan yang semakin bertambah, pengusaha jahe harus meningkatkan produksinya. Perkembangan komoditas jahe dapat dilihat dari ekspor jahe Indonesia ke luar negeri yang berfluktuasi dengan nilai ekspor yang semakin menurun. Dengan perkembangan yang terjadi, usaha Indonesia untuk menguasai pangsa pasar jahe dunia tidaklah mudah. Adanya pesaing-pesaing besar dalam perdagangan dunia pada komoditas jahe mendorong industri jahe Indonesia untuk bersaing di pasar internasional.
sumber : egamans.wordpress.com/2009/12/14...temukan/
Struktur pasar jahe dunia dianalisis agar dapat mengetahui perilaku pengusaha jahe di pasar internasional. Analisis ini dilakukan dengan Hirschman Herfindahl Index dan Concentration Ratio empat produsen jahe terbesar dunia, yaitu Cina, Belanda, Thailand, dan India. Keunggulan komparatif jahe Indonesia akan dianalisis menggunakan Revealed Comparative Advantage dengan periode analisis tahun 2000 sampai tahun 2007. Selain itu, keunggulan kompetitif jahe Indonesia akan dianalisis dengan Porter’s Diamond. Untuk lebih jelasnya, kerangka pemikiran dalam penelitian ini dipaparkan dalam Gambar berikut ini :
Daya saing komoditi jahe Indonesia di pasar internasional dapat diketahui melalui metode RCA (Revealed Comparative Advantage). Analisis daya saing jahe dilakukan satu per satu untuk masing-masing negara yaitu Malaysia, Singapura, Jepang, dan Bangladesh. Negara tersebut dipilih berdasarkan nilai ekspor terbesar Indonesia ke empat negara tujuan ekspor jahe Indonesia. Setelah memperoleh nilai RCA negara Indonesia ke empat negara tujuan ekspor jahe terbesar Indonesia, nilai RCA digunakan untuk mengukur daya saing Indonesia ke pasar tujuan utama ekspor. Untuk keunggulan komparatif, di pasar Malaysia, Indonesia memiliki daya saing yang baik pada tahun 2000 sampai tahun 2004. Dari tahun 2005 sampai 2007, daya saing Indonesia di pasar ini lemah dengan nilai RCA yang kurang dari satu. Di pasar Singapura, Indonesia memiliki daya saing yang kuat pada tahun 2000 sampai 2002. Setelah tahun 2003 sampai 2007, Indonesia sudah tidak memiliki daya saing yang kuat di pasar ini. Di Jepang, selama tahun 2000 sampai 2007, daya saing Indonesia selalu lemah dengan nilai RCA yang selalu kurang dari satu. Sedangkan di Bangladesh, jahe Indonesia dapat diterima baik selama tahun 2000 sampai tahun 2005, kecuali tahun 2003, karena tahun ini daya saing jahe Indonesia di pasar Bangladesh menurun. Setelah tahun 2005, daya saing jahe Indonesia di pasar ini melemah dengan nilai RCA yang kurang dari satu sampai tahun 2007. Menurunnya daya saing Indonesia disebabkan oleh penurunan nilai ekspor karena menurunnya kualitas jahe Indonesia. Berdasarkan hasil analisis menggunakan Porter’s Diamond, faktor yang menjadi kekuatan Indonesia di pasar internasional adalah :
(1) Sumberdaya alam
Indonesia diciptakan sebagai negara yang kaya akan sumberdaya alam. Jahe tumbuh baik pada daerah dengan curah hujan antara 2.500 sampai 4.000 milimeter per tahun. Semakin tinggi curah hujan, bobot rimpang yang dihasilkan akan semakin meningkat. Jahe peka terhadap kekurangan air sehingga tanaman ini cocok dipilih ditanam pada daerah dimana sebaran hujannya merata. Walaupun begitu, tanaman ini menghendaki banyak sinar matahari. Jahe dapat tumbuh pada ketinggian tempat antara 10 sampai 1.500 meter dari permukaan laut. Untuk jahe besar. pada ketinggian tempat kurang lebih 500 meter dari permukaan laut pertumbuhan rimpangnya akan optimum. Jahe menghendaki tanah yang subur, banyak mengandung humus dan berdrainase baik. Tanah latosol merah coklat dan andosol umumnya dapat ditanami jahe. Tekstur tanah yang baik untuk tanaman ini adalah lempung berpasir, liat berpasir dan tanah laterik. Jahe dapat tumbuh pada keasaman tanah (pH) 4,3 sampai 7,4, tetapi pH optimumnya adalah 6,8 sampai 7,0 (Januwati, 1988 dalam Balai Penelitian Tanaman Obat dan Rempah, 1997). Berdasarkan karakteristik diatas, Indonesia memiliki wilayah yang sangat cocok digunakan sebagai tempat untuk menanam jahe.
(2) Permintaan luar negeri
Dari berbagai bentuk komoditas jahe yang terdiri dari jahe segar dan jahe olahan, selama periode tahun 2001 sampai 2007 terlihat ekspor jahe Indonesia masih sangat kecil proporsinya dibandingkan dengan permintaan impor jahe dunia. Hal ini dapat dilihat dalam Tabel berikut :
Masih kecilnya kontribusi ekspor Indonesia terhadap impor dunia ini tidak menutup kemungkinan Indonesia untuk memperbesar ekspornya. Di sisi lain, tidak seimbangnya kebutuhan dunia yang relatif besar dengan persediaan yang relatif kecil dapat dijadikan tolak ukur pengembangan usaha penanaman jahe (Paimin FB dan Murhananto, 2000). Tren kebutuhan jahe dunia yang relatif besar akan menjadi pasar yang potensial bagi Indonesia.
(3) Industri terkait dan pendukung
Industri terkait komoditas jahe adalah industri obat tradisional industri makanan dan minuman juga industri kosmetika. Kondisi masyarakat yang back to nature membuat industri obat tradisional menjadi besar dan kebutuhan akan jahe ikut meningkat karena jahe merupakan salah satu bahan penting dari industri ini. Seiring perkembangan, industri makanan dan minuman yang berbahan dasar jahe juga digemari oleh masyarakat sehingga kedua industri ini menjadi industri yang sangat kuat mendukung perkembangan dalam komoditas jahe. Industri pendukung dari komoditas ini berupa penangkar benih yang dapat membantu petani untuk mendapatkan benih berkualitas, yang pengembangannya dilakukan oleh Deptan.
(4) Peranan pemerintah
Pemerintah memegang peranan penting bagi perdagangan jahe Indonesia di pasar internasional. Peran yang dilakukan pemerintah tentunya akan menjadi peluang atau bisa juga penghambat. Di Indonesia, pihak yang berperan dalam perdagangan komoditi jahe adalah Departemen Perdagangan dan Departemen Pertanian.
(5) Peranan kesempatan juga persaingan dan struktur pasar.
Jahe adalah komoditas yang tidak tergantikan. Khasiatnya sebagai penghangat tubuh memiliki keunikan yang khas yang tidak dimiliki oleh komoditas lain. Peluang pasar bagi komoditas ini sangat besar. baik di pasar lokal dengan semakin menjamurnya industri obat, makanan, dan minuman yang berbahan dasar jahe, maupun di pasar internasional dengan total impor dunia yang besar dengan kecenderungan impor yang meningkat. Peluang pasar bagi jahe Indonesia terbuka lebar di pasar dunia terutama di pasar Bangladesh, Malaysia, Singapura, dan Jepang. Negara ini menerima ekspor jahe dari Indonesia dalam jumlah yang besar. Namun, negara tersebut juga menerima ekspor dari negara lain dengan jumlah yang lebih besar, seperti dari negara Cina. Dengan melihat peluang pasar tersebut, peningkatan produksi jahe untuk memenuhi kebutuhan lokal dan ekspor akan sangat baik, dengan syarat peningkatan produksi ini harus memenuhi standar mutu yang ditetapkan pasar.
Sedangkan Berdasarkan hasil analisis menggunakan Porter’s Diamond pula, faktor yang menjadikelemahannya adalah sumberdaya modal, sumberdaya manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi, sumberdaya infrastruktur dan kondisi permintaan domestik.
Masalah utama ekspor jahe Indonesia adalah produksi yang tidak stabil dan mutu yang kurang baik. Untuk memperbaiki masalah ini maka strategi pengembangan yang dapat dilakukan adalah pembentukan kemitraan antara petani dengan pengusaha dan eksportir, mengadakan bimbingan, pendampingan dan pembinaan kepada msyarakat petani jahe, melakukan teknik budidaya yang tepat, dan perlakuan pemanenan dan pascapanen yang tepat.
Pasar jahe dunia dengan struktur pasar dominan yang secara langsung berakibat Indonesia tidak dapat mempengaruhi harga (price taker). Namun, dengan struktur pasar perdagangan jahe yang dominan, dengan peningkatan kualitas melalui ilmu pengetahuan dan teknologi, Indonesia bisa meraih pangsa pasar yang lebih besar. Sehingga, produksi komoditas jahe dapat berfungsi sebagai sumber devisa bagi negara dan dapat meningkatan pendapatan petani.
Referensi :



"Achmad Saiful Alim 2001, Kajian Proses dan Analisis Finansial Produksi Bubuk Jahe pada Industri Skala Rumah Tangga"

"Anonim, Pengantar Ilmu Pertanian"

"Anonim, Pertanian Non Pangan"

"Fitri Amelia (2009). Analisis Daya Saing Jahe Indonesia di Pasar Internasional"

" Monika Mindamora S (2000). Analisis Faktor-Faktor yang mempengaruhi Produksi dan Ekspor Jahe di Indonesia"

1 komentar:

  1. Silahkan datang www.tokojahemerah.com, www dan www.pasarindukkramatjati.com dan kontak kami Pin 2A 18A 367 , Fax (+6221) 8779 89 65,, facebook: M zaenal abidin, +62.812.979.1280. +62.8788.240.2123 Jika Mau Serius Bapak Mun Toha

    BalasHapus